Posted by: hanif on: October 5, 2008
Iklan Greeanpeace di atas sangat kreatif, sebagaimana aksi yang juga dilakukannya. Dengan jumlah orang yang tidak terlalu banyak, greenpeace selalu mendapatkan perhatian dunia karena protesnya (baca aksi) yang kreatif, efektif dan kadang nekat. Saya kagum dengan ide briliannya. seolah tak pernah habis.Ayo selalu kreatif. Selamatkan pohon kita! selamatkan bumi kita!
Posted by: hanif on: September 10, 2008
Keluarga Besar Mas’ud Bukhori- Ambarrukmo
Beberapa hari yang lalu ketika akan berangkat merantau ke pulau seberang, aku sempatkan menelepon keluarga di Jogja. Alhamdulillah, dengan orang tua bisa berkomunikasi. Bapak-Ibu lengkap di rumah tak lepas dengan harapan dan doanya agar anaknya diberi kemudahan dalam menghadapi tantangan hidup ke depan, sukses dalam pekerjaan, bahagia dalam mengarungi hidup, diberi kesehatan dan berpesan banyak hal, salah satunya adalah tidak boleh lupa ngaji (ibadah).
Dalam kesempatan itu, simbah putri kebetulan ada di samping orang tua. Dan tersambunglah kami dalam percakapan lewat telepon. Subhanallah, tak terasa sudah 1,5 bulan lebih aku tidak kontak langsung dengan simbahku satu-satunya yang masih kupunya, rasa rindu sangat terasa. Maklum, seumur-umur baru pertama kali ini berpisah agak lama dengan simbah. Simbah pun tak kuasa menahan tangisnya. Kesempatan emas ini kugunakan untuk meminta doa dan restunya. Teringat aku bahwa simbah paling rajin ke masjid, senantiasa beribadah berjamaah di masjid, mengaji dan rajin berdoa. Bahkan kadang, beliau menjadi makmum tunggal di bagian putri. Di usianya yang begitu renta (70-an tahun) beliau masih sehat dan tampak energik. Hal ini mungkin karena kerja kerasnya saat masih muda, bahkan sampai sekarang masih melayani pembeli di toko kelontong milik bulekku. Simbah memang tidak bisa membaca, tapi hitungannya sangat akurat.
Di saat tuanya, simbah tidak mau diam saja. Beliau terus bergerak dan melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Kadang dengan telatennya beliau memilah-milah barang bekas yang kupunya, mulai dari kertas, buku, dll untuk diloakkan. Padahal, aku cuma menumpuknya saja di belakang rumah. Hasilnya sungguh lumayan, bisa mencapai 100-an ribu. Dan semuanya diberikan ke aku. Dan jika sebagian kecil saja uang itu aku berikan ke simbah, ia tampak begitu senang menerimanya. Dan aku yakin uang yang tidak seberapa itu (termasuk kadang pemberian keluarga yang lain) paling-paling tidak bertahan lama karena digunakannya untuk sedekah, menyumbang saudara atau tetangga yang punya hajatan atau membeli sabun cuci dan abu gosok.
Aku berharap sekali bisa membalas kebaikan simbahku di dunia dan di akherat kelak. Aku ingin diberi kesempatan untuk bisa menghajikan simbah. Dan semoga, Engkau ya Allah, memberi beliau kesehatan dan umur panjang yang barakah sampai niatku ini terlaksana. Aamiin.
Sukamandang, Kalteng, 09 September 2008 menjelang waktu sahur
Posted by: hanif on: September 8, 2008
“Gergorius sudah mati. Aku yang menikamnya karena Gergorius yang malang telah membelot menjadi seorang muslim,” perasaan gundah menyelimuti Margiteus yang tengah mengusap-usap pedang panjangnya yang berukiran matahari dengan 12 jilatan api itu.
“Hah, mustahil mana mungkin terjadi, dia seorang Kristiani yang taat.” Argenta menatap tajam Margiteus
“Ya aku cuma bisa kesal, bingung dan sedih kenapa seorang panglima perang Romawi yang ulung harus mati di ujung mata pedangku.” Sesal Margiteus sambil membersihkan sisa darah di pedangnya.
Debu-debu beterbangan, menggumpal di atas bumi Yarmuk. Suara teriakan riuh jelas terdengar seiring rengekan suara onta dan kuda. Nyaring dan ngeri.
Posted by: hanif on: August 31, 2008
Berumah tangga bukan sekadar menjalankan fungsi ayah-ibu dan anak. Bukan pula semata proses penyatuan cinta kasih, menjalin romantisme dan harmonisme dalam sebuah keluarga yang baru. Berumah tangga adalah juga janji untuk berkomitmen membangun keluarga, dengan maksud dan tujuan yang mulia; melahirkan generasi pengganti yang baik dan shalih.
Apalah arti rumah luas nan mewah jika tidak ada anak yang menemani dalam berumah tangga. Apalah guna kekayaan yang melimpah jika tidak ada pewaris. Betapa sedih hati Khalilulllah Ibrahim as ketika usianya mendekati udzur namun ia belum punya keturunan. Betapa gundah gulana Nabiyullah Zakaria as dan istrinya, di saat usianya yang kian senja namun tidak juga dikaruniai generasi penerus. “Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisiMu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’kub; dan jadikanlah dia Tuhanku, seorang yang diridhai.” Begitulah rintihan Zakaria dalam surat Maryam, ayat 5 dan 6.
Posted by: hanif on: August 8, 2008
Baru2 ini aku kehilangan dompet lengkap. Disitu ad smua uang saku bapak ibu, budhe & bulek u/ merantau, ktp, SIM, nota travel,foto2, dll. Sedih jg T_T Belum pernah aku kehilangan harta benda sebanyak ini. Smg ini peringatan & bisa kuambil ibrohnya sehingga ke depan tidak mengalami hal ini lagi.
Ad nasihat bagus dari teman dekatku yang segera kupraktekkan.
“Barangsiapa selalu beristiqfar mk Allah menjadikan bgnya kelapangan dr setiap kesusahan, jalan keluar dr setiap kesempitan, & memberinya rizki dr arah yg tak terkirakan (Abu Daud & Ibnu Majah).
Terima kasih. Nasehatnya sangat membantu. Semoga bisa diamalkan selalu.
Catatan pagi, habis lari smapta 12 menit di rindam jaya, Jakarta
Posted by: hanif on: July 20, 2008
Sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus MENJADI DIRIMU yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kauinginkan. (Margaret Young).
Posted by: hanif on: July 20, 2008
Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tip sukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlah ketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suami berhasil juga membeli rumah di San Francisco Bay Area dengan keringat sendiri setelah hampir sepuluh tahun merantau di Negeri Paman Sam.
Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; saya adalah sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about being dan becoming.
Posted by: hanif on: July 13, 2008
Akhir-akhir ini aku semakin menyadari, sekitar rumah begitu riuh oleh adik-adik kecil tetangga yang bermain layang-layang dan berbagai dolanannya (delikan, jek-jekan, balapan pit, nekeran, dll). Jumlah mereka cukup banyak, hanya sekitaran tetangga saja total ada lebih dari 15-an anak, belum yang agak jauh tapi masih satu RW (melingkupi 2 RT), jumlah mereka bisa mencapai 50 orang. Rata-rata berumur 2-7 tahun. Tentu yang masih kecil bermain bersama ibunya. Tidak adanya kawasan publik yang bisa menjadi tempat bermain anak-anak menjadikan mereka bermain dari gang ke gang. Balap sepeda meliuk-liuk di gang yang tak lebih dari 1 meter, bahkan kadang cuma melewati gang 0,6 meter sudah biasa dan lihai.
Posted by: hanif on: July 12, 2008
Ahad, 29 Juni 2008 yang lalu, diadakan wisuda purna siswa SMP 5 Yogyakarta. Kebetulan, aku berangkat bersama Ibu mengantikan bapak yang tidak bisa ikut untuk wisuda adikku. Biasanya kalo ada acara buat kami di sekolah, selalu Bapak dan Ibu yang berangkat. Sudah 8 tahun aku tidak main ke SMP 5 Jogja. Ternyata bangunan dan suasananya tidak jauh berubah. Yang membedakan masjid (dulu musholla) yang sudah tidak di selatan kamar mandi dan ruang IT di sebelah timur perpus. Masjidnya sekarang lebih bagus, ada di lantai 2 sebelah barat perpus.
Posted by: hanif on: July 11, 2008
Masa-masa SMP, masa dimana banyak pengalaman yang menarik, konyol, juga mendewasakan. Sayangnya saat itu aku masih lugu (hehehe…^_^), jadi maklum jika banyak hal konyol yang dilakukan. Salah satunya adalah mencontoh saat ulangan yang membuat kapok. Biasanya sih nggak nyonto (bener!). Tapi bu Endang dengan PPKNnya memang pelajaran hapalan paling njelimet dan mumet. Ulangannya didekte, kita disuruh milih a,b,c,d di kertas ulangan. Nah, saat itu kelas 2E ada ujian PPKN dapat bocoran jawaban dari kelas 2G yang sudah ulangan jam pelajaran sebelumnya. Semua teman ikut-ikutan. kami beri tanda titik di option jawaban di kertas ulangan. Wah, karena semua ikut, jadi rugi kalo nggak turut serta dalam perbuatan curang itu.
Posted by: hanif on: July 10, 2008
Kami benar-benar merindukan suatu hari saat Allah menaklukkan Roma –ibukota Nasrani di jagad ini- bagi kaum muslimin, hal mana Rasulullah SAW telah mengabarkan bahwa kota ini akan ditaklukkan setelah ditaklukkannya konstantinopel.
Ketika kami berada di sekeliling Rasulullah SAW dan asyik menulis, tiba-tiba beliau ditanya, ‘Kota manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu? Konstanstinopel ataukah Roma? Beliau menjawab, ‘Kotanya Heraklius akan ditklukkan lebih dulu.’ Yaitu Konstantinopel (HR. Imam Ahmad dalam musnad 2/176 yang dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dari ‘Abdullah bin Amru bin Ash ra).
Posted by: hanif on: June 25, 2008
Kisah dari Tarbawi Community
Kisah Dua Manusia Super Ibukota tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi untuk mencoba menaklukkan ibukota negeri ini.
Semoga kita selalu diingatkan, sekedar berbagi cerita di forum orang -orang super dalam keindahan hari ini.
Siang itu 13 Pebruari 2008, tanpa sengaja saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk - makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberagan Harmoni, dua sosok kecil berumur kira - kira delapan dan sepuluh tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Posted by: hanif on: June 25, 2008
Ini ada cerita dari milis sebelah beberapa waktu yang lalu…Judul aslinya adalah “Zalimnya Pemerintahan Ini.” Namun, saya lebih sreg dengan judul “Mungkin Kehidupan di Akherat Sana Lebih Baik.” Bukan bermaksud mengganti tujuan penulis menuliskan kisahnya, bukan! Hanya saja apa yang terjadi, menurut saya karena memang keadaan kita sedang prihatin. Insya Allah pemerintah tidak semua jelek, hanya saja pilihan sulit memang harus diambil diantara pilihan lain yang lebih sulit. Banyak melihat “ke bawah” membuat kita bersyukur dengan apa yang sudah kita nikmati. Semoga memang kita selalu menjadi manusia-manusia pembelajar sampai akhir hayat nanti….
______________________
Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum juga lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik untuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.
Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. “Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?” tanya saya.
Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng. “Gak ada minyaknya.”
Posted by: hanif on: June 21, 2008
Melalui UU Nomor 11 Tahun 2005, pemerintah meratifikasi Kovenan Internasional Hak Ekonomi Sosial Budaya (Kovenan Ekosob). Kovenan ini antara lain berisi tentang tanggung jawab negara dalam menghormati, melindungi, dan memenuhi hak atas pangan bagi rakyatnya.
Dengan kata lain, masalah pangan merupakan hak asasi manusia yang pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara. Konsekuensi dari ratifikasi itu adalah pemerintah harus mengubah semua produk undang-undang (UU) yang tidak selaras dengan ketentuan Kovenan Ekosob, termasuk soal pangan.
Posted by: hanif on: June 21, 2008
Indonesia adalah negara yang potensial untuk berperan besar dalam mengatasi krisis pangan dunia. Namun, kini Indonesia masih mengalami dua bentuk krisis pangan, yakni krisis pangan secara berkala (transitory/occasional food insecurity) dan kronis (chronic food insecurity).
Krisis pangan berkala terjadi karena, misalnya, adanya bencana alam, konflik sosial, fluktuasi harga, dan lain-lain. Adapun krisis pangan secara kronis adalah krisis yang terjadi secara berulang-ulang dan terus-menerus. Krisis ini ditengarai adanya akses terbatas terhadap persediaan pangan disertai harga pangan yang melambung tinggi.
Posted by: hanif on: June 20, 2008
Waktu kita tidak cukup untuk membaca semua buku dan mengikuti berbagai peristiwa dunia. Tapi kita bisa tetap menguasai banyak ilmu dan tahu banyak hal melalui sistematika pembelajaran yang benar. Untuk itu, kita perlu seorang guru, kita perlu seorang ulama, kita perlu seorang yang membimbing kita untuk mengetahui struktur dari setiap ilmu dan cara mempelajarinya.
Kerja atau Sekolah lagi ya?
Pilihan itu pasti ada dalam benak semua orang yang lulus kuliah. Begitu juga dengan saya. Tak pelak lagi perlu sebuah pertimbangan serius mengenai hal ini. Dari merenung, bertafakkur ^_^, sampai diskusi kesana kemari.
Beberapa teman sudah ada yang berniat sekolah. Bahkan ada yang keterima menjadi dosen yang mau tidak mau secepatnya harus kuliah karena bila tidak, bisa lepas tuh status dosennya. Beberapa lagi milih kerja dulu, baru dalam waktu 2-3 tahun mendatang kuliah. Syukur-syukur bisa menjadi dosen.
Posted by: hanif on: June 20, 2008
Sering, bahkan beberapa kali seorang bapak mengeluh kesulitan biaya sekolah, bahkan ada juga yang sampai meminta bantuan anggota dewan kota Jogja segala, juga (lagi-lagi) agar anaknya bisa sekolah. Padahal ketika menghadap untuk diadvokasi ke Dinas P&P terkait, sang bapak dengan entengnya berkeluh kesah sambil merokok. Memang anaknya sulit bayar sekolah, tapi itu karena bapaknya lebih mementingkan uangnya untuk merokok. Kalau sehari bisa habis 1 bungkus, setara dengan Rp 7 ribu, maka sebulan bisa mencapai Rp 210 ribu. Padahal SPP bulanan sang anak Rp 150 ribu rupiah. Toh sang bapak kukuh tetep meminta beasiswa. Menganggap pendidikan mahal sehingga perlu minta beasiswa, tapi malah merokok jalan terus? benar-benar aneh!
Memang secara umum pendidikan di Indonesia masih mahal, jauh dari rata-rata pendapatan keluarga pada umumnya. Tapi kadang beberapa keluarga salah menyikapi dengan menganggap pendidikan nomor sekian, tapi hal-hal lain yang sebenarnya tidak penting malah didahulukan, seperti merokok tadi (yang jelas bagi saya rokok sangat tidak penting bahkan harus dihapuskan dari muka bumi ini…hehehe :).
Posted by: hanif on: June 20, 2008
Tulisan ini adalah opini yang saya ambil dari Republika Sabtu 14 Juni 2008. Sangat bagus opini dari Teguh Haryo Sasongko PhD, Dokter, Alumnus Kobe University Graduate School of Medicine, Jepang. Semoga bermanfaat!
Judul di atas mungkin terdengar aneh dan tidak nyambung. Namun, mari kita cermati tulisan ini sehingga dapat kita pahami bahwa saat ini yang diisap dan dieksploitasi dari bangsa ini bukan hanya kekayaan alamnya, tetapi juga penderitaan masyarakatnya.
Dalam pernyataannya yang dimuat Republika 9 Juni lalu, Pembantu Rektor I Universitas Diponegoro mengungkapkan bahwa secanggih apa pun laboratorium yang dimiliki Malaysia dan negara-negara maju lainnya, ada laboratorium yang mereka tidak bisa buat, yakni laboratorium pasien. Hal itulah yang membuat mereka sangat ingin belajar di perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Undip.
Pernyataan ini mengingatkan pada sekitar delapan tahun lalu ketika saya mulai menjalani program profesi pendidikan dokter (koasistensi) di FK UGM. Saat itu setiap tahun, sekitar Juni–Agustus, berdatangan mahasiswa-mahasiswa kedokteran dari Eropa/Amerika untuk melakukan semacam studi eksekursi, mengisi waktu liburan musim panas mereka.
Posted by: hanif on: June 19, 2008
Oleh : Anis Matta
Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar. Kemudian ia pun berkata, “Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini”. Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi. Sebab memberi adalah pekerjaan. Sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat. Sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama. Sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh. Maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia mengatakan, “Aku mencintaimu”. Kepada siapa pun! Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian di situ.
Recent Comments